oleh

Bulan September 2019 Penduduk Miskin di Sulawesi Barat 10,95 Persen

-BERITA, NASIONAL-577 views

Kabarsulbar.com – Mamuju – Badan Pusat Statistik merilis data pada bulan september 2019, persentase penduduk miskin di Sulawesi Barat 10,95 Persen yang disampaikan melalui tele konfrens di Aula Lantai dua Kantor Statistik Sulawesi Barat. Rabu, 15 Januari 2020.

Kepala BPS Sulawesi Barat Win Rizal Menyampaikan Pada Konfrensi Pers Bahw Pada bulan September 2019, persentase penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Sulawesi Barat mencapai 10,95 persen (151,87 ribu orang), turun 0,27 poin (secara absolut berkurang 0,96 ribu orang) jika dibandingkan dengan kondisi September 2018 yang mencapai 11,22 persen (152,83 ribu orang).

“Jika dibandingkan kondisi pada Maret 2019, persentase penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Sulawesi Barat pada September 2019 turun sebesar 0,07 poin meskipun secara absolut bertambah sebesar 0,47 ribu orang jika dibandingkan dengan kondisi Maret 2019 yang sebesar 151,40 ribu orang (11,02 persen)”.jelasnya

Lebih Lanjut Disampaikan Kepala BPS Sulbar, Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2019 sebesar 9,63 persen menurun menjadi 9,41 persen pada September 2019. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada Maret 2019 sebesar 11,45 persen menurun menjadi 11,43 persen pada September 2019.

Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada September 2019 tercatat sebesar 77,36 persen. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi Maret 2019 yaitu sebesar 77,56 persen.

“Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Dengan pendekatan ini, dapat dihitung Headcount Index, yaitu persentase penduduk miskin terhadap total penduduk”.

Metode yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen, yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Penghitungan Garis Kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan.

Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kkalori per kapita per hari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll).

Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non-makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di perdesaan.

Sumber data utama yang dipakai untuk menghitung tingkat kemiskinan September 2019 adalah data SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional) bulan September 2019. Jumlah sampel sebesar i 320.000 rumah tangga secara nasional dimaksudkan bahwa data kemiskinan yang disajikan hanya sampai tingkat provinsi. Sebagai informasi tambahan, juga digunakan hasil survei SPKKD (Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar), yang dipakai untuk memperkirakan proporsi dari pengeluaran masing-masing komoditi pokok bukan makanan.

Komentar

Update Terbaru