Mamuju Tengah, Kabarsulbar.com – Ketika sebagian besar warga Desa Lumu masih terlelap dalam dinginnya udara subuh, asap tipis sudah mulai mengepul dari dapur Satuan PAUD Sejenis (SPS) atau yang akrab dikenal warga sebagai SPPG Lumu. Di sinilah, perjuangan melawan stunting dan pemenuhan gizi anak dimulai setiap harinya, jauh sebelum matahari terbit.
Bagi para relawan SPPG Lumu, menyajikan makanan sehat bukan sekadar rutinitas, melainkan misi untuk mencetak generasi emas dari jantung Mamuju Tengah.
Nutrisi Segar dari Alam Sendiri
Menu yang disajikan setiap harinya dipilih dengan saksama. Alih-alih mengandalkan bahan instan, para penggerak di SPPG Lumu memaksimalkan potensi pangan lokal. Beberapa poin utama dalam penyajian makanan mereka meliputi:
Sayuran Organik: Memanfaatkan hasil kebun warga sekitar yang bebas pestisida.
Protein Berkualitas: Olahan ikan segar dan telur sebagai sumber protein utama pertumbuhan otak anak.
Tanpa Pengawet: Komitmen kuat untuk tidak menggunakan penyedap rasa buatan (MSG) berlebih dalam setiap masakan.
Lebih dari Sekadar Makan Gratis
Langkah yang dilakukan SPPG Lumu ini mendapat apresiasi luas.
Selain memastikan perut anak terisi, program ini juga menjadi sarana edukasi bagi orang tua. Para ibu diajak untuk memahami bahwa makanan sehat tidak harus mahal, asalkan dikelola dengan bersih dan seimbang.
” Kami ingin anak-anak di Lumu tumbuh dengan fisik yang kuat dan otak yang cerdas. Memasak sejak fajar adalah bentuk cinta kami untuk masa depan mereka,” ujar Kepala SPPG Lumu Peni Eldiana.
Dukungan Masyarakat dan Pemerintah
Upaya swadaya dan dedikasi ini diharapkan terus mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah, khususnya dalam pemenuhan fasilitas dapur sehat yang lebih memadai.
Konsistensi SPPG Lumu menjadi bukti nyata bahwa perubahan besar bisa dimulai dari dapur kecil di pelosok desa.




Komentar