PASANGKAYU – Di balik seremoni pelantikan pengurus DPW IJS Pasangkayu, terselip narasi perjuangan tentang marwah profesi jurnalis di Sulawesi Barat. Ketua Umum DPP IJS Sulbar, Irham Aziz, S.I.P., dalam sambutannya memaparkan kilas balik sejarah terbentuknya organisasi ini yang bermula dari kegelisahan dan kerentanan keamanan para pekerja media di lapangan.
Di hadapan para tamu undangan di Hotel Devonder, Minggu (15/2/2026), Irham mengenang peristiwa 12 tahun silam yang menjadi pemantik berdirinya IJS. Ia menceritakan bagaimana intimidasi, kekerasan fisik, hingga perusakan alat kerja jurnalis sering terjadi tanpa adanya perlindungan yang memadai dari organisasi yang ada saat itu.
“IJS lahir dari kegelisahan dan keresahan rekan-rekan jurnalis lokal yang sering kali mendapatkan perlakuan tidak adil hingga intimidasi saat meliput. Kami menyadari bahwa tanpa organisasi lokal yang solid dan berani, sulit bagi kita untuk saling melindungi satu sama lain,” kenang Irham dengan nada emosional.
Menurut Irham, IJS bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan benteng pertahanan bagi para jurnalis agar dapat bekerja tanpa rasa takut. Namun, ia menegaskan bahwa perlindungan tersebut harus dibarengi dengan kepatuhan terhadap kode etik. Perlindungan organisasi akan kuat jika karya yang dihasilkan juga objektif dan terkonfirmasi.
Ia pun berpesan khusus kepada pengurus IJS Pasangkayu yang baru dilantik agar proaktif menjalin komunikasi dan sinergi dengan berbagai institusi, terutama aparat penegak hukum.
“Sering-seringlah membangun komunikasi dengan pihak Kejaksaan, Kepolisian, hingga TNI. Sinergitas ini penting agar ada kesepahaman mengenai tugas-tugas jurnalistik di lapangan, sehingga tercipta ruang kerja yang aman, transparan, dan minim gesekan demi kelancaran informasi publik,” tutupnya.




Komentar