Oleh: Arwin, S.Pi., M.Si
Dosen Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Muhammadiyah Mamuju
Kabarsulbar.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bukanlah sekadar upaya mengisi perut anak bangsa. Lebih dari itu, MBG adalah ikhtiar besar dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Agar program ini benar-benar berdampak, maka bahan makanan yang disajikan tidak hanya harus bergizi, tetapi juga mudah didapat, terjangkau, dan bersumber dari kekayaan alam daerah sendiri. Salah satu sumber daya terbesar yang sering terabaikan adalah kekayaan laut kita, termasuk di Sulawesi Barat.
Laut yang Kaya, Gizi yang Luar Biasa
Indonesia adalah negara maritim dengan 70% wilayahnya berupa perairan. Potensi lestari perikanan nasional mencapai 12,01 juta ton per tahun, dan lahan budidaya yang tersedia mencapai 17,91 juta hektare (KKP, 2022). Namun ironisnya, konsumsi ikan masyarakat Indonesia hanya berkisar 57 kg per kapita per tahun, jauh di bawah Jepang dan Norwegia yang telah melampaui 80 kg.
Padahal, ikan merupakan sumber protein hewani terbaik, kaya akan asam lemak omega-3, kalsium, vitamin D, dan zat besi — semua zat gizi yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan kecerdasan anak-anak kita. Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, bahkan telah menyatakan kesiapan KKP mendukung penuh program MBG dengan menyediakan produk perikanan bermutu tinggi.
Sayangnya, langkah visioner pemerintah pusat ini belum sepenuhnya diikuti oleh pemerintah daerah. Di sejumlah daerah, termasuk Sulawesi Barat, belum terlihat sinergi kuat antara Dinas Kelautan dan Perikanan dengan pelaksana program MBG. Padahal, posisi Sulawesi Barat yang berada di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 713 membentang di Selat Makassar memiliki potensi luar biasa. Potensi ikan pelagis kecil mencapai 2.843,02 ton/tahun dan pelagis besar 1.625,06 ton/tahun (KKP, 2022). Produksi perikanan tangkap lautnya pun mencapai 71.559 ton (2024), dengan hasil utama seperti tongkol, cakalang, layang, kembung, dan lele laut.
Ikan Lokal, Gizi Nasional
Ada banyak jenis ikan yang sangat potensial dan bergizi tinggi untuk dijadikan menu MBG di Sulawesi Barat, antara lain:
1. Ikan Kembung – Kandungan Omega-3-nya dua kali lipat lebih tinggi daripada ikan salmon impor.
2. Ikan Lele – Kaya protein dan vitamin D, mudah dibudidayakan.
3. Ikan Nila – Daging lembut, rendah duri, sumber protein baik untuk anak-anak.
4. Ikan Tongkol – Kaya zat besi dan vitamin B12 untuk daya tahan tubuh.
5. Ikan Bandeng – Tinggi kalsium, membantu pertumbuhan tulang.
Jenis-jenis ikan ini tidak hanya bergizi, tapi juga mudah diolah menjadi berbagai menu menarik: nugget ikan, bakso ikan, pepes ikan, hingga abon ikan. Menu sederhana yang bergizi tinggi dan pasti disukai anak sekolah.
Jika ikan dijadikan bahan utama dalam program MBG, maka dampaknya akan berlapis, bukan hanya pada perbaikan gizi anak dan penurunan stunting, tetapi juga pada penguatan ekonomi masyarakat pesisir. Nelayan akan memiliki pasar yang stabil, pelaku UMKM pengolahan hasil laut akan tumbuh, dan ibu-ibu rumah tangga di desa pesisir bisa diberdayakan untuk memproduksi lauk olahan ikan.
Menata Rantai Dingin dan Sinergi Antar Sektor
Namun tentu, pelaksanaannya memerlukan kesiapan yang matang. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan infrastruktur penyimpanan ikan (cold storage) di banyak daerah, termasuk di Sulawesi Barat. Beberapa unit cold storage yang ada bahkan belum berfungsi optimal.
Karena itu, diperlukan koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Pendidikan agar pasokan ikan ke sekolah-sekolah tetap terjaga kualitasnya. Selain itu, perlu dihidupkan kembali kampanye GEMARIKAN (Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan) agar anak-anak sejak dini mencintai lauk ikan.
Sayangnya, di beberapa daerah kampanye ini nyaris tak terdengar, padahal program ini bisa menjadi gerakan sosial yang mendukung suksesnya MBG sekaligus memperkuat ekonomi nelayan lokal.
Dari Laut untuk Masa Depan Bangsa
Menu laut untuk generasi kuat — inilah semangat baru yang seharusnya mengiringi program Makan Bergizi Gratis. Menu yang disajikan akan lebih bermakna jika bersumber dari kekayaan daerah sendiri, terutama hasil laut. Ikan bukan sekadar lauk, tetapi simbol kemandirian gizi nasional.
Dengan memanfaatkan hasil perikanan lokal, kita tidak hanya memberi makan anak sekolah, tetapi juga memberi kehidupan bagi jutaan keluarga nelayan. Program MBG akan menjadi model kebijakan yang berkeadilan, yakni memberi gizi untuk anak, memberi penghidupan untuk masyarakat.
Sektor perikanan telah menawarkan solusi yang konkret: gizi melimpah, harga terjangkau, dan dampak ekonomi luas. Maka, sudah saatnya para pengelola dapur MBG menempatkan ikan sebagai menu utama minimal satu hingga dua kali.
Sudah saatnya anak-anak Indonesia tumbuh sehat dengan hasil laut negeri sendiri. Karena gizi dari ikan hari ini adalah fondasi masa depan bangsa di hari esok.




Komentar