Mamuju, Kabarsulbar.com – Harapan masyarakat untuk menjalani ibadah Ramadan dengan tenang nampaknya harus terbentur realita pahit. Memasuki hari ke-16 Ramadan, kelangkaan gas Elpiji bersubsidi ukuran 3 kg atau yang akrab disapa “Gas Melon” kian memprihatinkan di sejumlah wilayah.
Kondisi ini memicu jeritan warga, terutama para ibu rumah tangga dan pelaku UMKM yang menggantungkan hidupnya pada bahan bakar melon tersebut.
Di pangkalan-pangkalan resmi menjadi pemandangan lazim setiap pagi dan sore. Di beberapa daerah, warga bahkan rela mengantre sejak pukul 05.00 WIB, tepat setelah waktu sahur, demi memastikan mereka mendapatkan jatah satu tabung gas.
” Saya sudah keliling ke lima pangkalan, semuanya kosong. Di pengecer ada, tapi harganya sudah tidak masuk akal, tembus Rp35.000 sampai Rp40.000 per tabung. Padahal HET (Harga Eceran Tertinggi) jauh di bawah itu,” keluh Indra Ibu Rumah Tangga, Jumat, 06 Maret 2026.
Hal yang sama juga dikeluhkan oleh Nilam warga Desa Bambu Kecamatan Mamuju. Ia mnegeluhkan susahnya mendapatkan gas melon untuk keperluan buka puasa.
” Sejak selesai sholat ashar saya keliling untuk mencari Gas Melon 3 Kg hingga menjelang buka puasa tapi tak dapat juga, ” Ucap Nikam.
Nilam juga membeberkan, bahwa ia telah mendatangi salah satu pangkalan yang ada di Desa Bambu, namun harus antri terlebih dahulu.
” Tadi Kami pulang ke rumah dulu untuk berbuka puasa, dan setelah itu kami kembali lagi ke pangkalan menunggu antrian untuk mendapatkan LPG. Pemilik pangkalan mengatakan bahwa Mobil Pemuat LPG lambat datang dikarenakan harus Mobil truk pembawa LPG harus antri di SPBU untuk mengisi bahan bakar Solar, “Jelasnya.
Penyebab Kelangkaan: Permintaan Naik, Distribusi Terhambat?
Secara teknis, peningkatan konsumsi selama Ramadan memang selalu terjadi. Namun, tahun ini dirasa lebih berat.
Beberapa faktor ditengarai menjadi penyebab utamanya:
Lonjakan Konsumsi Rumah Tangga: Intensitas memasak untuk sahur dan buka puasa meningkat drastis.
Produksi Kue Lebaran: Banyak industri rumah tangga mulai memproduksi kue kering untuk persiapan Idulfitri.
Dugaan Penimbunan: Adanya oknum yang menahan stok untuk menaikkan harga di tingkat pengecer.
” Kalau gas tidak ada, kami tidak jualan. Kalau beli yang mahal, kami rugi. Kami seperti terjepit di tengah-tengah bulan suci ini,” ujar salah satu pedagang warung makan di Mamuju.
Harapan Warga kepada Pemerintah
Warga mendesak pemerintah dan Pertamina untuk segera melakukan Operasi Pasar secara masif guna menstabilkan pasokan dan harga. Pengawasan di tingkat distribusi juga diharapkan lebih ketat agar gas subsidi tepat sasaran dan tidak “dimainkan” oleh spekulan.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat masih menanti langkah nyata agar di sisa hari menuju Lebaran, urusan perut tidak menambah beban ibadah mereka.




Komentar