Mamuju Nasional
Beranda » Berita » Tradisi Menjelang Ramadhan Elpiji 3 Kg Kian Langka dan Mahal

Tradisi Menjelang Ramadhan Elpiji 3 Kg Kian Langka dan Mahal

Mamuju, Kabarsulbar.com – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriyah/2026 Masehi, masyarakat biasanya disibukkan dengan berbagai tradisi seperti nyadran atau makan besar bersama keluarga. Namun, keceriaan menyambut bulan puasa tahun ini sedikit terusik oleh pemandangan yang mulai lazim terlihat di berbagai sudut kota: deretan tabung hijau yang mengantre di depan pangkalan, namun tanpa isi.

​Bagi warga, pekan terakhir sebelum Ramadhan adalah waktu tersibuk di dapur. Tradisi memasak hantaran makanan atau sekadar menyiapkan stok lauk pauk menjadi momen sakral. Sayangnya, banyak ibu rumah tangga yang terpaksa gigit jari karena kesulitan mendapatkan gas Elpiji 3 kg atau yang akrab disapa “Gas Melon”.

​” Mau masak buat acara syukuran keluarga, tapi muter-muter ke lima pengecer semuanya kosong. Kalaupun ada, harganya sudah naik jauh di atas HET (Harga Eceran Tertinggi),” keluh Ibu Sumiati (45), salah satu warga yang ditemui saat mengantre di pangkalan resmi.

Salah satu warga lainnya, Irda, mengeluhkan sulitnya mendapatkan Gas LPG 3 KG yang merupakan kebutuhan sehari hari demi menghilangkan makanan untuk keluarga.

” Dari kemarin saya keliling cari tabung pak, tadi pagi baru bisa dapat itupun di desa sebelah harganya 35 ribu mau tudak mau kita harus beli dari pada tidak memasak, ” Keluhnya.

Jamin Keamanan di Masa Libur Panjang, Kanwil Kemenkum Sulbar Lakukan Sejumlah Langkah Kontijensi

​Berdasarkan pantauan di lapangan, ada beberapa faktor yang diduga menjadi pemicu sulitnya mendapatkan gas bersubsidi ini:

​Peningkatan Konsumsi: Kebutuhan rumah tangga dan UMKM kuliner meningkat drastis untuk persiapan Ramadhan.

​Hambatan Distribusi: Beberapa pengecer mengaku pasokan dari agen tidak selancar biasanya.

​Kekhawatiran akan stok kosong membuat sebagian warga menyetok lebih dari satu tabung.

​​Kelangkaan ini pun berdampak pada harga. Di tingkat pangkalan resmi, harga mungkin masih stabil dan ada juga yang tidak sesuai aturan pemerintah. Namun, di tingkat pengecer atau warung kecil, harga terpantau merangkak naik hingga mencapai Rp30.000 sampai Rp35.000 per tabung.

Polsek Tapalang Redam Konflik Melalui Mediasi Tokoh Masyarakat Galung dan Kasambang

Warga berharap pemerintah dan pihak terkait segera melakukan Operasi Pasar atau menambah kuota distribusi. Tanpa langkah cepat, kekhawatiran masyarakat bukan lagi soal menu berbuka apa yang akan dimasak, melainkan apakah mereka bisa menyalakan kompor saat sahur pertama nanti.

“End@”

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement