Mamuju Tengah, Kabarsulbar.com – Jeritan hati masyarakat di sepanjang jalur poros Babana – Polohu Kecamatan Budong-budong, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) semakin nyaring terdengar. Akses jalan yang seharusnya menjadi urat nadi aktivitas warga, kini layaknya “jalur khusus” bagi kendaraan pengangkut Crude Palm Oil (CPO) yang melintas tanpa henti, siang maupun malam.
Dominasi truk-truk raksasa bertonase tinggi ini tidak hanya memicu kemacetan panjang, tetapi juga menciptakan rasa waswas bagi para orang tua yang anak-anaknya setiap hari harus melintasi jalur tersebut untuk berangkat sekolah.
Keselamatan Terpinggirkan oleh Roda Industri
Keresahan warga bukan tanpa alasan. Beberapa poin utama yang menjadi keluhan mendalam meliputi:
Ruang Jalan yang Terkuras: Ukuran truk yang lebar seringkali memaksa pengendara sepeda motor dan kendaraan kecil keluar dari bahu jalan demi menghindari senggolan, yang sangat berisiko memicu kecelakaan.
Infrastruktur yang Kian Runtuh: Aspal jalan poros Babana mulai menunjukkan kerusakan serius di berbagai titik. Warga menilai beban muatan truk CPO yang berlebihan menjadi penyebab utama hancurnya akses publik tersebut.
Polusi Debu dan Kebisingan: Getaran dari kendaraan berat dan kepulan debu sisa angkutan mulai mengganggu kesehatan pernapasan warga yang tinggal di pinggir jalan utama.
” Kami merasa asing di jalan sendiri,” ungkap salah seorang warga yang mengeluhkan betapa sulitnya melintas di jam sibuk, Sabtu, 11/04/26.
Masyarakat mendesak pemerintah dan dinas terkait untuk segera turun tangan. Tuntutan utama warga adalah adanya pembatasan jam operasional serta pengawasan ketat terhadap batas muatan (tonase) agar jalan tidak cepat hancur.
Hingga berita ini diturunkan, warga berharap ada itikad baik dari pihak perusahaan pengelola CPO untuk lebih peduli terhadap dampak sosial dan keselamatan masyarakat lokal yang terdampak langsung oleh aktivitas logistik mereka.
Editor: End




Komentar