Legal opini Sy adalah :
1. Bahwa pasal 9 ayat 2 UU. No. 8/ 2019 yg memberi ruang dan legalitas kpd Beliau. Maka pertanyaannya adalah ” apa dasar KPK menetapkan Beliau sbg Tersangka ?.
2. Jika hanya UU Tipikor tanpa menyebut niat dan pelanggaran yang Beliau lakukan sebagaimana anasir pasal di UU. No.8/ 2019 selain dr UU Tipikor, maka itu sungguh keliru krn tidak terpenuhinya anasir² dugaan perbuatan sebagai mens rea atau adanya niat dari Beliau.
3. Pasal 64 ( 2 ) UU. No. 8/ 2019 mestinya sdh dibunyikan awal seiring digunakanx UU Tipikor sbg dasar adanya dugaan perbuatan melanggar hukum yang anasir²nya wajib lengkap, jangankan tdk disebutkan, disebutkan pun jika tdk lengkap tetap secara hukum tdk boleh menjadi dasar adax mens rea atau niat dr Beliau utk kemudian ditetapkan sbg Tersangka.
4. Soal Diskresi Beliau selaku Menag, adalah dasar hukum yang kuat dan melekat kpd diri Beliau, dan tidak akan gugur sekalipun konstruksi hukum dr pasal sangkaan KPK secara substansial adalah anasir delik UU. No. 8/ 2019 yang tidak dicantumkan dlm UU Tipikor.
5. Pembagian quota Haji 2024 tidaklah melanggar hukum ( terlepas belum dicantumkanx pasal a quo oleh KPK ), krn itu kewenangan Beliau sbg Menag utk menetapkan quota Haji & Quota tambahan.
7. Belum ada audit resmi atas kerugian negara dr Lembaga auditor resmi negara ( BPK, BPKP & Inspektorat ), sehingga dr mana angka² kerugian tsb diperoleh oleh KPK ?.
8. Unsur menguntungkan diri sendiri, adanya niat jahat dan adanya kerugian negara belum atau tidak sedikitpun tergambar dalam sangkaan KPK kpd Beliau jika hanya dgn menggunakan anasir dari UU Tipikor.
Selanjutnya, KPK menggunakan Pasal 2 & 3 UU Tipikor sbg dasar hukum awal krn UU Tipikor memiliki cakupan yg lbh luas utk berbagai tindak pidana korupsi termasuk penyalahgunaan wewenang & kerugian keuangan negara.
Namun aturan seperti UU No. 8 Tahun 2019 ttg Kuota Haji adalah UU yg lbh spesifik dan mengatur ttg kuota haji, sementara UU Tipikor lbh fokus pd aspek pidana & sanksi krn UU Tipikor :
– Cakupannya lebih luas
– Sanksinya lebih berat
– Lebih efektif dlm menjerat pelaku korupsi
Hirarkinya adalah bhw UU Tipikor lbh awal dicantumkan lalu UU No. 8 Tahun 2019 sbg acuan menentukan untuk unsur² delik yg lebih spesifik :
– Menetapkan dasar hukum yg kuat menjerat tersangka
– Mengantisipasi kemungkinan adanya tindak pidana korupsi yg lebih luas
– Menggunakan sanksi yg lebih berat utk menjerat pelaku korupsi.
UU No. 8/ 2019 membantu memperjelas unsur² pidana terkait kuota haji, sementara UU Tipikor ( Pasal 2 & 3 ) sbg dasar hukum awal lainx.
Atau bhw semestinya UU No. 8/ 2019 digunakan setelah KPK menetapkan dasar hukum awal dgn UU Tipikor Pasal 2 & pasal 3 utk :
– Memperjelas unsur² pidana terkait kuota haji
– Menentukan apakah tindakan mantan Menteri Agama telah melanggar aturan kuota haji
– Menghukum pelaku korupsi dgn sanksi yg lebih berat
Jadi, UU No. 8/ 2019 yg di dalamnya jg sdh menyebut Peraturan Menteri ( Pasal 9 ayat 2 ) digunakan sbg acuan memperjelas & memperkuat kasus korupsi yg telah ditetapkan dgn UU Tipikor.
Selanjutnya bahwa pembagian quota Haji 2024 tsb tidaklah melanggar hukum ( terlepas belum dicantumkanx pasal a quo oleh KPK ), krn itu kewenangan Beliau sbg Menag utk menetapkan quota Haji & Quota tambahan.
Belum ada audit resmi atas kerugian negara dr Lembaga auditor resmi negara ( BPK, BPKP & Inspektorat ), sehingga dr mana angka² kerugian tsb diperoleh oleh KPK ?.
Unsur menguntungkan diri sendiri, adax niat jahat dan adanya kerugian negara belum atau tidak tergambar sedikitpun dlm sangkaan KPK jika hanya dgn menggunakan anasir di UU Tipikor.
Persoalanx adalah utk membuktikan delik ” memperkaya … dstx dan merugikan keuangan negara .. dstx ” tsb haruslah terbukti secara limitatif sbg dasar terpenuhi-terbuktix pasal 2 ayat 1 & pasal 3 UU Tipikor Jo. pasal 603 & pasal 604 KUHP baru.
Sehingga jika UU No. 8/ 2019 ttg Kuota Haji tdk dicantumkan secara rinci dan jelas, maka utk membuktikan Pasal 2 & Pasal 3 UU Tipikor serta Pasal 603 & Pasal 604 KUHP Baru akan mengalami kendala dlm memperjelas unsur² delik terkait dgn kuota haji dimaksud.
Dengan kata lain, UU No. 8 Tahun 2019 berfungsi sbg acuan utk memperjelas & memperkuat dugaan KPK atas adanya delik yg telah ditetapkan dgn UU Tipikor, sehingga jika tdk digunakan, maka proses pembuktian justru keliru.
Penulis : Muh. Arsalin Aras (LBH Ansor Sulbar)


