Jakarta – Awalnya, ada rasa minder ketika mengetahui bahwa saya akan mengikuti Standardisasi Dai Majelis Ulama Indonesia (MUI) Angkatan 50. Terbayang bahwa forum ini akan diisi oleh para asatidzah dengan kapasitas keilmuan syar’i yang mumpuni. Bukan hanya mereka yang merupakan alumni Madinah atau berbagai perguruan tinggi di Timur Tengah, tetapi juga para ulama dan cendekiawan yang umumnya telah bergelar Doktor bahkan Professor, dengan pengalaman dakwah yang panjang dan teruji.
Di tengah nama-nama besar dan latar belakang keilmuan yang luar biasa itu, sempat muncul pertanyaan dalam diri: “Apa yang bisa saya bawa ke forum sebesar ini? Apakah saya cukup layak berada di antara mereka?”
Namun, kekhawatiran itu perlahan berubah menjadi rasa syukur. Justru ketika berada di tengah para asatidzah yang luas ilmunya, saya menemukan pelajaran yang tidak kalah penting dari materi-materi yang disampaikan: ketawadhuan.
Saya menyaksikan bahwa orang-orang yang ilmunya tinggi tidak menjadikan ilmu sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi. Sebaliknya, keluasan ilmu justru membuat mereka semakin tenang, semakin terbuka, dan semakin rendah hati.
Mereka tidak hadir untuk menunjukkan siapa yang paling hebat. Mereka hadir untuk belajar, berbagi, berdiskusi, dan saling menguatkan dalam perjuangan dakwah. Di situlah saya mulai memahami bahwa rasa minder tidak selalu harus dilawan dengan merasa lebih hebat. Kadang, rasa minder cukup dijawab dengan kesadaran bahwa setiap orang memiliki jalan belajar dan ladang pengabdiannya masing-masing.
Saya mungkin belum memiliki keluasan ilmu seperti mereka. Belum memiliki pengalaman dakwah sepanjang mereka. Namun, berada di forum ini membuat saya sadar bahwa Allah tidak menuntut kita menjadi orang lain. Allah meminta kita untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat sesuai kemampuan yang kita miliki. Dan ternyata, berada di antara orang-orang berilmu bukanlah alasan untuk merasa kecil. Justru itu adalah kesempatan untuk bertumbuh.
Para asatidzah mengajarkan ketawadhuan bukan hanya melalui nasihat, tetapi melalui sikap. Cara mereka mendengar, menjawab pertanyaan, menghargai pendapat, dan berinteraksi dengan peserta menjadi pelajaran yang sangat membekas.
Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin terasa bahwa dirinya bukan siapa-siapa di hadapan keluasan ilmu Allah.
Maka, Standardisasi Dai MUI Angkatan 50 bagi saya bukan sekadar tentang standardisasi kompetensi seorang dai. Ini juga menjadi ruang untuk melakukan standardisasi hati: sejauh mana ilmu yang kita miliki mampu membuat kita semakin dekat kepada Allah, semakin menghargai sesama, dan semakin sadar bahwa perjalanan menuntut ilmu tidak pernah selesai.
Saya datang dengan sedikit rasa minder, tetapi pulang membawa banyak inspirasi.
Saya datang dengan perasaan bahwa mungkin saya tidak cukup layak berada di antara mereka, tetapi kemudian menyadari bahwa justru berada di antara orang-orang hebat adalah kesempatan untuk belajar menjadi lebih baik.
Jazakumullahu Khairan kepada para asatidzah Wahdah Islamiyah yang telah memberikan teladan bahwa ilmu yang tinggi tidak harus melahirkan sikap yang tinggi hati. Sebaliknya, semakin luas ilmu, semestinya semakin dalam ketundukan kepada Allah dan semakin lembut dalam memperlakukan sesama.
Sebab pada akhirnya, dai bukanlah orang yang paling banyak tahu, melainkan orang yang terus mau belajar dan bersedia mengamalkan ilmunya untuk kemaslahatan umat.
Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga beradab; tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu menjadi teladan; dan tidak hanya dikenal karena ilmu, tetapi juga dikenang karena ketawadhuan dan keikhlasannya dalam berdakwah.
Karena ilmu yang tinggi akan semakin indah ketika dihiasi ketawadhuan. Dan dakwah yang kuat akan semakin bermakna ketika lahir dari hati yang tunduk kepada Allah.




Komentar