MAMUJU, Kabarsulbar.com — Kegiatan yang berlangsung pada Kamis–Sabtu, 9–11 Juli 2026 melatih anggota Karang Taruna mengolah ikan tuna, komoditas yang selama ini hanya dijual dalam bentuk segar tanpa pengolahan. Dari pendampingan itu lahir dua produk olahan bermerek. Abon Tuna “RAWRR” kemasan 100 gram diposisikan sebagai lauk siap konsumsi, sementara Stick Ikan Tuna kemasan 60 gram menyasar pasar camilan dan oleh-oleh. Keduanya dikemas dalam standing pouch bersegel vakum, lengkap dengan label yang memuat komposisi, berat bersih, dan ikon Pulau Karampuang.
“Persoalan utama di Karampuang bukan ketersediaan bahan baku, melainkan belum termanfaatkannya nilai tambah dan arus wisatawan sebagai pasar,” ujar Widya Utami.

Secara ekonomi, empat kilogram ikan tuna segar senilai Rp100.000 dapat diolah menjadi satu kilogram abon dengan nilai jual Rp300.000 — meningkat sekitar tiga kali lipat. Keuntungan kolektif UMKM tercatat Rp2.870.000 per bulan. Produk dipasarkan melalui penjualan langsung di dermaga, titipan pada pusat oleh-oleh di Kota Mamuju, serta kanal daring Instagram, TikTok, dan WhatsApp Business.
Kegiatan ini memberi dampak berlapis bagi masyarakat Pulau Karampuang. Bagi pemuda, terbentuknya UMKM olahan ikan menyediakan alternatif kegiatan produktif yang sebelumnya tidak tersedia di pulau — sebuah peluang yang relevan dengan persoalan migrasi pemuda Karampuang ke Kalimantan untuk mencari kerja. Sebanyak 12 pemuda kini memperoleh penghasilan dari kegiatan produksi, pengemasan, dan pemasaran di kampung sendiri. Bagi nelayan setempat, hadirnya unit pengolahan berarti kepastian pembeli dan harga yang lebih baik dibandingkan mekanisme penjualan kepada pengumpul, terutama saat hasil tangkapan melimpah dan ikan rentan membusuk.
Bagi ekonomi wisata, kedua produk
menutup celah yang selama ini membuat tingkat belanja wisatawan rendah. Pengunjung yang datang ke Karampuang kini memiliki oleh-oleh khas untuk dibawa pulang. Pencantuman ikon pulau pada label menjadikan produk berfungsi ganda: sebagai komoditas ekonomi sekaligus media promosi destinasi. Dari sisi pemanfaatan sumber daya, program berhasil meningkatkan nilai jual ikan tuna sekitar tiga kali lipat. Penerapan mesin spinner dan vacuum sealer memperpanjang masa simpan produk dari 1–2 bulan menjadi 4–6 bulan, sehingga produk mampu menempuh distribusi lintas laut menuju Kota Mamuju tanpa menurun mutunya.

“Kami berharap unit usaha ini terus berjalan meski masa pendampingan berakhir, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan pemuda dan masyarakat Karampuang dalam jangka panjang,” ujar Widya Utami.
Model pemberdayaan berbasis Karang Taruna ini juga direkomendasikan untuk direplikasi di pulau-pulau kecil lain di Sulawesi Barat yang memiliki karakteristik serupa: sumber daya perikanan melimpah, potensi wisata yang berkembang, namun belum terhubung dengan kegiatan ekonomi produktif masyarakat setempat.




Komentar