Mamuju, Kabarsulbar.com – Suasana syahdu menyelimuti Masjid At-Taubah di dalam lingkungan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Mamuju. Setiap malam di bulan suci Ramadan, usai menunaikan ibadah salat Isya dan Tarawih berjamaah, puluhan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) tidak langsung kembali ke kamar hunian. Mereka memilih untuk melingkar, membuka mushaf, dan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dalam kegiatan tadarus rutin.
Mengetuk Pintu Langit dari Balik Tembok Tinggi.
Cahaya lampu masjid yang terang benderang menjadi saksi bisu kesungguhan para warga binaan. Suara lantunan ayat suci bersahut-sahutan, menciptakan harmoni ketenangan yang menembus dinginnya malam di balik tembok tinggi rutan.
Kegiatan tadarus ini merupakan bagian dari program pembinaan kepribadian yang intensif selama Ramadan. Tujuannya jelas: memberikan ruang bagi para warga binaan untuk merefleksikan diri dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
” Di sini kami belajar bahwa jeruji besi hanya membatasi raga, bukan jiwa kami untuk beribadah. Tadarus malam ini menjadi obat penawar rindu keluarga sekaligus cara kami memperbaiki diri,” ujar salah seorang warga binaan dengan nada haru, Kamis, 26/02/26.
Pembinaan Mental dan Spiritual.
Pihak Rutan Mamuju memfasilitasi kegiatan ini sebagai bentuk pemenuhan hak beribadah sekaligus strategi perubahan perilaku. Petugas rutan pun turut berjaga dan mendampingi, memastikan kegiatan berjalan dengan khidmat dan tertib hingga larut malam.
Beberapa poin utama dari kegiatan ini meliputi:
Khatam Al-Qur’an Berjamaah: Para warga binaan dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk mengejar target khatam Al-Qur’an sebelum hari raya Idul Fitri.
Bimbingan Tajwid: Bagi warga binaan yang belum lancar, rekan sejawat yang lebih ahli atau petugas pembina kerohanian memberikan bimbingan cara membaca yang benar.
Penguatan Karakter: Selain membaca, sesi ini seringkali diselingi dengan diskusi singkat mengenai makna ayat yang dibaca sebagai bahan renungan harian.
Ramadan sebagai Momentum Hijrah
Kepala Rutan Mamuju Sudirman,SE menekankan bahwa bulan Ramadan adalah momentum emas bagi warga binaan untuk melakukan “hijrah” mental. Rutinitas tadarus usai tarawih ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai seremoni ibadah, tetapi mampu membentuk karakter yang lebih religius dan disiplin saat mereka kembali ke masyarakat nanti.
Gema Al-Qur’an yang terus mengalun hingga menjelang tengah malam di Rutan Mamuju menjadi bukti nyata bahwa hidayah dan keinginan untuk berubah bisa tumbuh di mana saja, bahkan di tempat yang paling terbatas sekalipun.




Komentar