MAMUJU, Kabarsulbar.com – Warga Kabupaten Mamuju kini menghadapi ujian berat akibat krisis kebutuhan pokok yang terjadi secara bersamaan. Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar dan pertalite belum juga teratasi, kini diperparah dengan sulitnya akses air bersih dan langkanya tabung gas LPG 3 kilogram. Kombinasi tiga masalah vital ini telah melumpuhkan aktivitas harian masyarakat dan memicu kecemasan kolektif yang kian memuncak.
Di sektor energi, antrean panjang kendaraan pengisi solar masih menjadi pemandangan harian di sejumlah SPBU, sementara stok pertalite sering kali kosong tanpa kepastian kapan akan tersedia kembali. Dampaknya terasa hingga ke sektor transportasi dan distribusi barang.
” Bensin susah, mau masak pakai kompor juga gasnya tidak ada. Sekarang keran air pun kadang hanya mengeluarkan angin. Kami benar-benar terjepit,” keluh seorang ibu rumah tangga di Kecamatan Mamuju.
Keluhan serupa datang dari pedagang kecil yang terpaksa menutup usahanya karena tidak mampu membeli BBM non-subsidi maupun mengganti tabung gas dengan harga pasar yang melambung.
Krisis air bersih menambah beban penderitaan warga. Sejumlah wilayah mengalami penurunan tekanan air PDAM atau bahkan mati total selama berhari-hari. Warga terpaksa mengantri di titik-titik penampungan air atau membeli air tangki dengan harga yang terus merangkak naik. Bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil, berjalan kaki membawa jeriken menjadi rutinitas melelahkan demi memenuhi kebutuhan minum dan mandi.
“Air adalah hak dasar, tapi sekarang rasanya seperti barang mewah. Anak-anak harus berangkat sekolah dalam keadaan kurang bersih karena kami harus menghemat air untuk minum,” ujar seorang guru SD setempat.
Sementara itu, kelangkaan LPG 3 kg membuat dapur warga semakin sepi. Tabung gas bersubsidi yang seharusnya menjadi andalan masyarakat berpenghasilan rendah kini sulit ditemukan di pangkalan resmi. Banyak warga beralih kembali ke kayu bakar atau arang, yang selain tidak praktis juga berpotensi meningkatkan deforestasi dan polusi udara dalam ruangan. Pedagang eceran mengaku kewalahan memenuhi permintaan karena pasokan dari distributor sangat terbatas dan tidak teratur.
” Saya keliling dengan menempuh jarak yang cukup jauh demi mendapatkan LPG 3 KG, kalau tidak begitu saya tidak akan mendapatkan LPG pak. BBM langka, Air kering, LPG pun juga susah, ” Keluh seorang pria warga mamuju yang keliling mencari LPG hingga belasan kilometer, Kamis, 17/09/26
Warga mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait—mulai dari Pertamina, PDAM, hingga dinas sosial—untuk berkoordinasi secara masif menangani krisis ini. Mereka menuntut transparansi jadwal distribusi, prioritas alokasi untuk kelompok rentan, serta penyediaan bantuan darurat berupa air bersih dan paket sembako bagi yang paling terdampak. Tanpa intervensi cepat dan terpadu, krisis multidimensi ini berpotensi memicu ketidakstabilan sosial dan menurunkan kualitas hidup masyarakat Mamuju secara signifikan.
Kepastian ketersediaan energi, air, dan gas bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan ukuran keberpihakan negara terhadap rakyatnya. Jeritan warga Mamuju hari ini adalah panggilan keras agar layanan dasar dapat kembali berfungsi normal, sehingga roda kehidupan dan harapan akan masa depan yang lebih layak tidak ikut padam bersama keran air dan kompor gas mereka.




Komentar