SULAWESI BARAT– Kemampuan memetakan kebun menjadi salah satu keterampilan penting bagi pekebun kelapa sawit untuk mengenali batas lahan dan mendokumentasikan kondisi perkebunan secara lebih terukur. Sebanyak 31 pekebun asal Kabupaten Pasangkayu mengikuti Pelatihan Teknik Pemetaan Lokasi Perkebunan Kelapa Sawit Angkatan I di Provinsi Sulawesi Barat pada 23–26 Oktober 2026. Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya mempelajari dasar pemetaan, tetapi juga mempraktikkan pengambilan data hingga menyusun peta berdasarkan hasil survei lapangan.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026 yang diselenggarakan melalui kolaborasi Badan Pengelola
Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training.
Kegiatan ini dibuka dengan kehadiran Muh. Faizal Thamrin, S.E., Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat; Dr. H. Abidin, S.Pd., M.Si., Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan
Kabupaten Pasangkayu; Dr. M. Apuk Ismane, Ketua Tim Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pelatihan pada Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementerian Pertanian; Mula Putra, S.E., M.Sc., Ketua Kelompok Pemberdayaan dan Kelembagaan Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Direktorat Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Direktorat Jenderal Perkebunan; serta Prof. Dr. Ir. Hariyadi, M.S., tim narasumber IPB Training.
Penguasaan teknik pemetaan menjadi bekal bagi pekebun untuk memahami posisi dan batas kebun secara lebih jelas. Informasi tersebut juga dapat membantu proses pendataan lahan, terutama ketika pekebun perlu mengetahui batas wilayah perkebunannya dan menyiapkan
informasi spasial yang dibutuhkan dalam pengelolaan kebun.
Dalam pelatihan ini, peserta mempelajari dasar-dasar pemetaan, kebijakan dan regulasi terkait, pengenalan geospasial, serta jenis data spasial yang digunakan dalam pemetaan. Mereka juga
diperkenalkan pada perangkat dan aplikasi pendukung, mulai dari telepon genggam dan GPS hingga perangkat lunak sistem informasi geografis atau GIS. Pembelajaran tersebut memberi pemahaman mengenai bagaimana data lokasi dikumpulkan, diolah, dan disajikan menjadi informasi berbentuk peta.
Salah satu persoalan yang dibahas adalah pentingnya memahami batas kawasan, termasuk ketika lahan perkebunan berada di sekitar kawasan hutan. Pengetahuan mengenai sumber data peta dan
informasi batas kawasan dapat membantu pekebun memperoleh gambaran awal mengenai lokasi kebunnya serta mengurangi risiko kekeliruan dalam memahami batas lahan.

Pemahaman tersebut kemudian diterapkan melalui praktik. Peserta belajar menggunakan perangkat pemetaan, mengambil titik dan menelusuri batas lahan (tracking), serta melakukan penandaan lokasi tanaman atau geo-tagging. Mereka juga mempelajari perencanaan survei, termasuk persiapan alat, penentuan objek yang akan dipetakan, dan pembagian wilayah kerja agar pengambilan data dapat dilakukan secara terarah.
Praktik lapangan berlangsung di kebun kelapa sawit di Desa Polo Lereng, Kecamatan Pangale, Kabupaten Mamuju Tengah. Di lokasi tersebut, peserta melakukan pengambilan data batas lahan
dan penandaan lokasi tanaman kelapa sawit. Penggunaan drone turut diperkenalkan sebagai salah
satu cara memperoleh data spasial dari udara. Melalui praktik ini, peserta dapat melihat secara langsung hubungan antara kondisi kebun di lapangan dan data yang nantinya digunakan dalam
penyusunan peta.
Data hasil survei kemudian diolah menggunakan perangkat lunak GIS. Peserta mempelajari penyesuaian koordinat atau georeferencing, penggambaran objek dalam bentuk vektor, pengisian atribut, serta perhitungan geometri untuk memperoleh informasi mengenai luas dan panjang
objek. Tahapan tersebut menjadi bagian penting dalam mengubah data hasil pengukuran menjadi informasi spasial yang dapat dibaca dan dimanfaatkan.
Proses pembelajaran berlanjut hingga penyajian peta. Peserta mempelajari penentuan simbol, pengaturan tata letak, pemilihan elemen peta, dan ekspor hasil akhir. Dengan menggabungkan
data lapangan dan pengolahan digital, peserta diarahkan untuk menghasilkan peta kebun berdasarkan data yang telah mereka kumpulkan selama praktik.
Pada akhir pelatihan, peserta mengikuti sesi integrasi untuk merangkum tahapan pemetaan, mengevaluasi pemahaman, dan mengukur hasil pembelajaran melalui post-test. Rangkaian ini memperlihatkan bahwa pemetaan bukan hanya kegiatan mengambil koordinat, melainkan proses
yang membutuhkan ketelitian sejak persiapan survei hingga penyajian peta akhir.
Melalui pelatihan ini, 31 pekebun Pasangkayu diharapkan dapat menerapkan keterampilan pemetaan untuk mendukung pendataan dan pengelolaan kebun masing-masing. Kemampuan tersebut juga diharapkan dapat membantu pekebun berbagi informasi yang lebih akurat di
lingkungan kelompok tani serta memperkuat pengelolaan perkebunan kelapa sawit berbasis data.





Komentar