Mamuju, Kabarsulbar.com — Mobilitas warga yang menghubungkan antar-dusun di Desa Bambu kini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Jembatan yang menjadi satu-satunya urat nadi perekonomian, pendidikan, dan akses kesehatan bagi ratusan kepala keluarga di wilayah tersebut, kini kondisinya kian lapuk dan mengancam keselamatan siapa saja yang melintas.
Berdasarkan pantauan di lapangan, jambatan yang menghubungkan antara Dusun Buadao dan Dusun Babana Pantai dengan panjang sekitar 50 Meter dan lantai dari pohon Bambu dan tiang penyangga dari kayu itu, sangat membahayakan para siswa yang melintas saat ke sekolah.
” Dengan kondisi Jembatan yang menghubungkan dua Dusun itu, Anak-anak Sekolah dari Buadao harus melewati jembatan yang kondisinya sangat parah, apalagi anak Sekolah yang tiap hari melewati adalah Anak TK (Taman Kanak-kanak) dan anak Sekolah Dasar karena TK dan SD adanya di Dusun Babana Pantai, ” Ungkap Lukman warga Buadao kepada Kabarsulbar.com, Kamis, 21/05/26.
Kondisi ini kian mencekam saat musim hujan tiba. Permukaan jembatan menjadi sangat licin, dan debit air sungai yang meningkat di bawahnya kerap membuat badan jembatan bergoyang tidak stabil.

” Setiap kali lewat sini, jantung rasanya mau copot. Apalagi kalau anak-anak berangkat sekolah. Kami orang tua selalu was-was, tapi tidak ada jalan alternatif lain yang dekat,” ungkap salah seorang warga setempat dengan nada cemas.
Jembatan ini bukan sekadar infrastruktur, melainkan jalur vital. Saban hari, para Nelayan dan anak-anak menggunakannya untuk mengejar cita-cita di sekolah.
Akses yang aman ini otomatis memperlambat roda ekonomi desa dan meningkatkan biaya transportasi karena warga harus memutar arah hingga belasan kilometer jika enggan mengambil risiko.
Hingga saat ini, warga secara swadaya terus melakukan perbaikan minor. Namun, kemampuan finansial dan material yang terbatas membuat perbaikan tersebut hanya bertahan sementara.
Masyarakat Desa Bambu sangat berharap adanya perhatian serius dan tindakan nyata dari pemerintah daerah maupun dinas terkait. Pembangunan jembatan yang permanen dan layak bukan lagi sekadar bumbu janji pembangunan, melainkan kebutuhan mendesak demi keselamatan nyawa dan keberlangsungan hidup warga antar-dusun.(end)




Komentar