Mamuju, Kabarsulbar.com — Sebuah nasib ajaib melanda seorang nelayan lokal yang biasa menerjang ombak dan membawa pulang hasil tangkapan pas-pasan. Tanpa perlu menemukan harta karun di dasar laut maupun memenangkan undian jalan sehat, sang nelayan kini resmi dinyatakan masuk Desil 10—kelompok teratas alias 10 persen orang terpengaya di Indonesia!
Kabar ini sontak membuat geger tetangga sekitar dan rekan-rekan sesama nelayan.
” Saya kaget waktu ngecek data. Padahal sampan masih pakai gayung, alat pancing seadanya, makan sehari-hari tergantung cuaca. Tapi kata sistem, saya sejajar sama miliarder dan konglomerat nasional. Luar biasa, mendadak kaya lewat algoritma!” ujar sang nelayan di Mamuju sambil tertawa miris, Rabu, 14/10/26.
” Kami makan tiap hanya dari hasil pancingan ikan dilaut, kok bisa langsung jadi Sultan desil 10,” Tambahnya sambil ngakak.
Beban Berat Menjadi “Sultan Laut”
Masuknya nelayan ke tingkatan tertinggi kelompok ekonomi versi sistem ini memicu berbagai tanggapan kocak sekaligus satire dari warganet:
Sultan Berbusana Ringan: Nelayan terkait kini dijuluki Sultan Undercover. Pergi melaut pakai kaos oblong kumal dan sandal jepit hanyalah gaya hidup “low profile” agar tidak pamer kemewahan.
Perahu Tradisional vs Yacht Mewah: Warga berspekulasi bahwa sistem pencatatan menganggap perahu kayu bertengki solar tipis milik nelayan sama megahnya dengan kapal yacht milik para taipan.
Tolak Bansos Demi Harga Diri Elite: Karena sudah dikategorikan “sangat mampu” di Desil 10, bantuan sosial (bansos), subsidies solar, maupun jaminan sosial otomatis gugur. “Nggak apa-apa gak dapet bansos, yang penting gelar di sistem sudah setara bos sawit,” seloroh warganet di platform X.
Mengapa Bisa Terjadi?
Usut punya usut, kekeliruan fatal ini disinyalir terjadi akibat inkonsistensi input data lapangan atau galat pada algoritma pemeringkatan kesejahteraan.
Kejadian ini tak hanya menimpa nelayan, namun juga profesi marjinal lain seperti “Kang Cilok” hingga tukang becak yang tiba-tiba “diisukan kaya raya” oleh data resmi.
Pemerintah sendiri telah menyampaikan bahwa data tersebut masih terus menjalani proses verifikasi, validasi, dan pemutakhiran ulang agar bantuan sosial dan kebijakan publik kembali tepat sasaran kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.





Komentar