Mamuju Tengah
Beranda » Berita » Antrean Truk Sawit di Barakkang Trans-Sulawesi Kian Meresahkan: Hak Pengguna Jalan Terenggut, Keselamatan Terancam

Antrean Truk Sawit di Barakkang Trans-Sulawesi Kian Meresahkan: Hak Pengguna Jalan Terenggut, Keselamatan Terancam

Mamuju Tengah, Kabarsulbar.com – Arus lalu lintas di jalur Trans-Sulawesi, tepatnya di kawasan Desa Barakkang, Kecamatan Budong-budong, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) kini berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Antrean panjang truk-truk besar bermuatan kelapa sawit yang berderet di bahu jalan utama tidak hanya memicu kemacetan parah, tetapi juga mulai mengancam keselamatan jiwa para pengguna jalan yang melintas.

​Setiap harinya, puluhan hingga ratusan truk sawit tampak mengular menunggu giliran bongkar muat menuju perusahaan Kelapa Sawit PT. Mitra Andalan Sawit, Karena tidak tertampung di dalam area pabrik, truk-truk ini terpaksa memakan badan jalan Trans-Sulawesi di Barakkang, mengubah jalur cepat antar-provinsi menjadi area parkir darurat yang semrawut.

​Penyempitan Jalur dan Jeritan Pengguna
​Aktivitas bongkar muat dan antrean yang meluber ini otomatis memotong kapasitas jalan secara drastis. Pengendara roda dua dan roda empat yang melintasi area Desa Barakkang dipaksa memperlambat laju kendaraan mereka secara mendadak.

​” Kalau sudah masuk wilayah Barakkang, kita harus ekstra sabar dan waspada. Jalannya jadi sempit sekali karena kiri-kanan kadang dipakai parkir truk sawit. Kalau berpapasan dengan kendaraan besar lain dari arah berlawanan, taruhannya nyawa,” ujar seorang sopir angkutan umum yang rutin melintasi jalur tersebut, Senin, 22/06/26.

​​Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa persoalan ini telah melampaui batas gangguan kenyamanan, dan masuk dalam kategori rawan kecelakaan (black spot) akibat faktor-faktor berikut:
​Buta Jarak Pandang (Blind Spot): Truk-truk tinggi yang berjejer menutup pandangan pengendara, terutama saat hendak menyalip atau di tikungan sekitar Barakkang.

Jumat Berkah, SPPG Lumu Sajikan Menu MBG untuk Siswa Di Mamuju Tengah

​Ranjau Malam Hari: Minimnya lampu penanda atau scotlight pada bak truk yang terparkir membuatnya sulit terlihat di malam hari, meningkatkan risiko tabrak belakang.

​Masyarakat setempat dan para pengguna jalan mendesak otoritas terkait—baik Dinas Perhubungan maupun kepolisian setempat—untuk segera menegur dan menindak tegas manajemen kelapa sawit di area tersebut.

​Warga menuntut pihak perusahaan bertanggung jawab penuh dengan menyediakan kantong parkir (holding area) yang luas di dalam kawasan internal mereka. Jalan Trans-Sulawesi adalah fasilitas publik, dan pembiaran antrean di bahu jalan Barakkang ini tidak boleh terus berlanjut sebelum menelan korban jiwa.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement